RSS

Untukmu

21 Aug

“Gimana kamu sama dia sekarang ?”

“Baru aja jalan nih, doain ya..mohon doa restu.”

“Hahaha.. emang aku ibunya dia apa ? Semoga langgeng yah..”

“Amin, makasih yah.”

Masih teringat di kepala percakapan di messenger waktu itu, padahal waktu itu aku ingin berkata aku masih belum bisa melupakanmu, masih belum bisa melupakan perasaan yang ada. Yah, aku mungkin salah, kalau aku melakukannya aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak seharusnya berpikir seperti itu, yang lalu biar lah berlalu. Harusnya aku bahagia, bahagia dia bisa menemukan pengganti ku yang baik, dan tentu saja memiliki keyakinan yang sama dengannya. Harusnya aku senang, dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena keputusan kami berdua untuk berpisah. Berpisah secara baik-baik demi kebaikan masing-masing. Penghalang hubungan kami terlalu besar, terlalu berat untuk kami.

Kadang rasa ingin menyapa itu ada, hanya sekedar untuk bertanya bagaimana kabar nya ? sedang sibuk apa sekarang ? dan bagaimana hubungannya dengan dia. Tapi rasa takut itu datang, rasa takut dia menyangka aku masih berharap padanya, rasa takut aku mengganggu hubungannya dengan gadis yang sekarang berada disampingnya. Walau sekedar obrolan di messenger, tapi aku takut untuk menyapanya. Takut kalau aku mengganggu nya, padahal rasa ini ingin sekedar berbagi obrolan saja. Apakah aku salah ?

Aku berusaha hanya mengetik satu kata “Hai” tapi tidak pernah kunjung ku kirim, aku hanya menahannya sejenak dan menghapusnya lagi. Dan menutup layar obrolan. Aku hanya membaca pesan-pesannya yang ia kirim ke grup chat kami. Iya, kami masih berada di grup chat yang sama, dan kami malah saling menyapa disana, hanya disana kami bicara. Dulu tidak begini, meski hubungan kami berakhir kami masih sering mengobrol secara pribadi. Tapi sejak dia memiliki gadis lain yang ia sukai, kebiasaan itu mulai berkurang. Aku memang tidak seharusnya khawatir, aku juga tidak seharusnya mengharapkan yang lebih dari ini, aku hanya lah orang yang pernah ada di hatinya untuk sesaat, dan sekarang sudah tidak lagi. Aku juga harus bisa untuk mulai membuka hatiku untuk orang lain yang akan datang di kehidupanku nanti. Meski sekarang aku memutuskan untuk sejenak tidak memikirkan hal itu, tapi terkadang aku merindukannya, merindukan suasana saat ada orang yang khawatir tentang diriku, dan memperhatikanku, walau sebenarnya aku tidak suka di perhatikan.

Untukmu, yang kini bukan milikku lagi, aku berpesan, semoga kau bisa menjalani hidupmu dengan baik dan bahagia, semoga Tuhan merestui apapun yang kau lakukan dan apapun yang akan kau jalani ke depannya. Bahagiakan lah gadis yang kini ada disamping mu. Buat dia merasa spesial seperti saat kau melakukannya padaku, kalau bisa melebihi apa yang kau berikan padaku. Jika ada halangan yang menghalangi kalian, hadapi lah dengan bijak dan jangan tergesa-gesa. Aku percaya kau adalah orang yang kuat. Kau hanya sedikit pemalu saja. Kurangi lah sifat itu ya. Untukmu, yang kini semakin jauh dariku, bolehkah aku menyapa mu ? bolehkah aku mengucapkan “hai” ? apakah kau akan membalasnya ?

Based on true story, terima kasih buat seseorang yang udah berbagi cerita di email dan bersedia ceritanya di tulis ulang hehehehe… silahkan buat yang mau curhat bisa email di naohiragidesu@gmail.com, sekian dan terima kasih. Bye bye.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2016 in Curhat, Story

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: